EMAS FADLI DI KEJUARAAN ASIA BALAP SEPEDA TREK 2019
Pebalap Indonesia,Muhammad Fadli Imammudi, merayakan kemenangan di final nomor individual pursuit balap sepeda paralimpiade katerogi C4-C5 dalam kejuaraan Asia Balap Sepeda Trek 2019 di Velodrom Internasional Jakarta, Rawamangun, Kamis (10/1/2019). Fadli berhasil meraih medali emas dengan catatan waktu 4 menit 59,601 detik. Di final, ia mengalahkan pebalap asal Iran. Medali Perunggu diraih pebalap Indonesia lainnya sufyan Saori.
Jakarta, Kompas – pebalap sepeda paralimpiade Indonesia menyelamatkan muka tuan rumah pada kejuaraan Asiab Balap Trek (ATC) 2019. Pada hari kedua, Kamis (10/1/2019), bendera merah putih akhirnyya berkibar lima kali dan lagu kebangsaan “IndonesiaRaya” pu berkumandang di Velodrom Internasional Jakarta, Rawammagun.
Indonesia meraih satu medali emas dan tiga perunggu dari sepeda paralimpiade, yaitu medali emas Muhammad Fadli Imammudin di nomor individual pursuit (IP) 4.000 meter kelompok C4-C5. Adapun tiga medali perunggu diraih pasangan Sri Sugiyanti-Magfiroh di nomor trandem, Triyagus Arief Rachman di nomor IP 3.000 m kelompok C1-C3 dan Sufyan Saorindi nomor IP 4.000 m kelompok C4-C5.
Sabtu perunggu lainnya diperoleh pebalap trek andalan Indonesia Crismonita Dwi Putri di nomor 500 meter individual time trial putri.
“Inilah hasil dari latihan keras selama 2,5 bulan setelah selesainya Asian Para Games 2018. Alhamdulilah, saya bisa lebih cepat sekitar lima detik dari catatan waktu saya di Asian Para Games 2018. Hal itu sesuai target saya yang ingin membuat waktu dibawah 5 menit . namun , masih banyak yang harus saya tingkatkan karena target saya adalah bisa lolos kualifikasi Paralympic 2020,”Kata Fadli yang menorehkan rekor nasional baru 4 menit 58,185 detik.
Meski demikian pebalap asal Jakarta itu menyadari bahwa catatan waktunya masih jauh dibandingkan dengan pemegang rekor dunia balap sepeda paralimpiade di nomor IP 4.000 kelompok C4,yaitu 4 menit 24 detik.
“Fadli perlu semakin membesar dan memperkuat otot-ototnya supaya bisa lebih cepat lagi.oleh karena itu, pola nutrisinya harus lebih baik. Masih ada waktu untuk mengejar,”kata Dadang Haries Purnomo, elatih kepala timnas balap sepeda Indonesia.
TARGET CRISMONITA
Seperti yang ditargetkan manajer ataupun jajaran pelatih timnas balap sepeda, Crismonita Dwi Putri memenuhi targetnya untuk meraih medali di ATC 2019.
Atlet asal Malang, Jawa Timur, itu pada babak kualifikasi menempati posisi ketiga dengan waktu 35,990 detik. “Saya belum puas karena catatan waktunya masih jauh dari 35,00 detik. Awalnya saya mengira tinggal perebutan posisi ketiga dan keempat, tetapi ternyata dibalik lagi, jadi gak terganggu konsentrasi,”ujarnya.
Namun, pada laga penentuan Crismonita bisa membuat waktu lebih baik, 35,981 detik, yang menempatkannya pada posisi ketiga. Posisi pertama direbut atlet china Lin Junhong yang mencatat 34,754 detik, disusul atlet korea selatan, Kim Soo-hyun, yang meraih perak dengan 35,248 detik.
“ saya harus bisa lebih cepat lagi dan semakin banyak diuji coba. Faktor sepeda juga ada,sepeda yang saya gunakan ini lebih berat ketimbang sepeda yang digunakan lawan-lawann saya”, tambah Crismonita.
Kualitas sepeda yang digunakan atlet Indonesia, sebagai mana disampaikan manajer Timnas Balap Sepeda Budi Saputra , memang masih dibawah lawan. “Ini pun bukan sepeda bantuan dari pemerintahan, tetapi bantuan dari teman teman Pak Raja Sapta Oktohari,Ketua Umum PB ISSI. Saya berharap atlet-atlet kita mendapat sepeda baru dan lebih canggih dari yang mereka pakai sekarang sehinga lebih bisa bersaing “ Ujurnya .
Kemanangan Fadli, seperti disampaikan mantan pebalap sepada motor andal itu, salah satu faktornya karena dia menggunakan sepeda yang paling banyak digunakan atlet balap sepeda trek dunia saat ini
“ saya mendapatkan sepeda ini seteah meraih emasdi Asian Para Games . ini memang sepeda paling bagus untuk saat ini, Look R96. Rangkanya lebih rigid sehingga penyaluran tenaga ke roda sepeda sangat efisien.
Memakai sepeda ini sangat enak, terasa sekali tenaga saya tidak ada yang terbuang ” ungkapnya. Dia menyebutkan harga rangka sepedanya saja sekitar lebih dari Rp 130 juta Selain Crismonita, para pebalap sepeda trek Indonesia lainnya belum mampu mengimbangi kecepatan lawan-lawan mereka.
Selain terlihat kalah dalam hal akselerasi, daya tahan para pebalap Indonesia pun masih kurang sehingga sering kali tampak kesulitan ketiga harus bradu spirt dua putaran .
Indonesia gagal meraih medali dari balap sepeda nomor tim sprint putra dan putri, serta tim persuit di Asian Games 2018. PB ISSI bakal mengevaluasinya.Berlangsung di Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Senin (27/8), tim sprint putri yang terdiri dari Elga Kharisma Novanda dan Chrismonita Dwi Putri hanya mampu berada di urutan kelima pada babak kualifikasi.
Catatan waktunya menembus 34,453 detik. Empat teratas direbut China, Hong Kong, Korea, dan Jepang.Serupa, tim sprint putra yang diperkuat Rio Akbar, Puguh Admadi, dan Terry Yudha Kusuma finis di urutan kelima. Mereka mencatatkan waktu 44,859 detik.
"Evaluasianya yang jelas empat negara di atas kami levelnya dunia. Tentu dari progress anak-anak hanya beda beberapa detik dari peserta lain. Tim sprint putra karena ada Rio Akbar tentu membantu banget. Sementara untuk putri, Elga dan Chrismonita memang sudah kami prediksi tapi kami tak sangka waktu mereka jadi 34 karena selama latihan di bawa itu," kata Ketua Badan Tim Nasional Balap Sepeda, Budi Saputra, yang juga manajer timnas kepada .
"Ya pastinya dengan hasil ini kami akan memberikan evaluasi untuk lebih baik lagi," dia menambahkan.Sejauh ini, balap sepeda mempersembahkan dua medali emas, satu perak, dan dua perunggu. Masih tersisa sepuluh nomor lagi yang akan diikuti sampai 30 Agustus. Budi berharap ada kejutan kendati persaingan di level tersebut ketat.
"Kalau ditanya puas secara prestasi anak-anak ya belum. Tapi dari hasil sesuai target puas karena target yang dibebankan kepada kami tercapai. Tapi secara prestasi kami terus berbenah apalagi sekarang kita punya velodrome baru. Tentu kita harus bisa berbicara tingkat dunia," dia menjelaskan.
Karena hari ini yang main di velodrome adalah atlet kelas dunia semua. Sementara tim sprint kami berada di nomor 5. Ke depan Indonesia akan menjadi tuan rumah Kejuaraan Asia Trek pada Januari 2019. Itu sudah masuk kejuaraan resmi UCI. Jadi anak-anak setelah Asian Games ini akan persiapan ke sana," ujarnya.
Pebalap paracycling Indonesia Muhammad Fadli Immammuddin bersyukur kembali meraih emas di level Asia. Sebuah senjata baru jadi kunci sukses dia.Fadli tampil tercepat dalam perebutan medali emas di Asian Track Cycling Championship 2019 nomor balapan individual pursuit 4.000 meter kategori C4-C5 (tuna daksa).Dia membukukan waktu 4 menit 59,601 detik di Velodrome, Rawamangun, Kamis (10/1/2019).Fadli bersyukur bisa kembali membanggakan Indonesia. Oktober lalu, Fadli menyumbang medali emas di Asian Para Games 2018 pada nomor yang sama dengan waktu 5 menit, 03,605 detik.
"Alhamdullilah di ajang ini saya bisa lebih improve daripada Asian Para Games kemarin karena dua pelatih berkolaborasi. Baik pelatih dari PB ISSI maupun paracycling," kata Fadli, usai pengalungan medali.
"Terlebih lagi selama training camp dua bulan ini merupakan program lanjutan dari Asian Para Games. Jadi tidak ada jeda, tidak ada libur, ini yang membuat saya lebih improve," tuturnya.
"Yang terakhir tentu karena saya memiliki senjata baru yaitu R96 yang kastanya di atas sepeda sebelumnya. Di kejuaraaan dunia pun para pebalap menggunakan ini makanya saya cukup senang dengan hasil yang diraih," dia menambahkan. Tapi keberhasilannya di ACC 2019 belum membuat Fadli puas. Target Fadli sejatinya mendapat slot Paralimpiade 2020. Dia saat ini berada di peringkat 16 dunia.
"Masih banyak pekerjaan rumah jadi masih jauh perjalanannya. Tapi setidakannya saya masih punya waktu 1,5 tahun untuk menghadapi Paralimpiade. Saya yakin minimal bisa masuk kualifikasi dan bersaing di sana. Jika dua bulan saja saya bisa improve apalagi 1,5 tahun," katanya penuh percaya diri.
Paracycling Indonesia mempersembahkan medali emas dan dua medali perunggu di Asian Track Cycling Championship 2019. Masing-masing dipersembahkan dari nomor individual pursuit paracycling 4.000 meter dan 3.000 meter.Adalah Muhammad Fadli Immammuddin menjadi yang terbaik di nomor balapan individual pursuit 4.000 putra di Velodrome, Rawamangun, Kamis (10/1/2019).
Fadli tampil tercepat dalam perebutan medali emas di kategori C4-C5 (tuna daksa) membukukan waktu 4 menit 59,601 detik. Sementara medali perak diraih Mahdi Mohammadi (Iran) mencatatkan waktu 5 menit 23,920 detik.
sementara Sufyan Saori (Indonesia) sukses mengamankan posisi tiga dalam perebutan medali perunggu usai membukukan waktu tercepat 5 menit 13,951 detik. Lebih cepat dari pesaingnya, dari Malaysia Zuharie Ahmad Tarmizi dengan catatan waktu 5 menit 23,920 detik.
Sebelumnya, di nomor balapan individual pursuit 3.000 meter kategori C1-C3, Tryagus Arief Rachman, juga sukses mengamankan medali perunggu. Dia menempati peringkat tiga setelah mencatatkan waktu terbaik 4 menit 16,498 detik. Dia mengalahkan pebalap Malaysia.
Sementara di peringkat pertama diraih pebalap Jepang, Shota Kawamoto dengan catatan waktu terbaik 3 menit 51,057 detik dan perak diraih pebalap Malaysia Mohamad Yusof Hafizi Shaharuddin setelah membukukan 4 menit 08,182 detik.
Muhammad Fadli Imammuddin meraih medali emas di Asian Track Cycling Championship 2019.Sukses itu melanjutkan kebahagiaan keluarga setelah emas Asian Games 2018.
Fadli menjadi yang tercepat di nomor trek individual pursuit putra kategori C4 (tunadaksa). Pada perebutan medali emas, dia membukukan waktu 4 menit 59,601 detik di Velodrome, Rawamangun, Kamis (10/1/2019).Catatan waktu itu lebih sip ketimbang saat dia menyumbangkan medali emas di Asian Para Games 2017 pada nomor yang sama. Waktu itu, Fadli mencatatkan waktu 05 menit, 03,605 detik. Kemenangan yang membanggakan itu ternyata disaksikan langsung oleh istrinya, Diah Asri Astyavi, dan anak semata wayangnya.
"Senang, bersyukur, ternyata kerja keras dia menghasilkan sesuatu yang baik untuk dia, saya dan keluarga. Happy banget, bersyukur," kata Astyavi.Asty, panggilan karibnya, mengatakan apa yang didapat Fadli merupakan hasil kerja keras suaminya selama ini. Dia menyebut Fadli disiplin dalam latihan.
"Fadli itu setiap hari latihan, pagi dan sore. Dan kami dari keluarga hanya bisa berdoa saja. Alhamdulillah yang saya lihat Fadlinya itu orangnya fighting banget dan sejak menjadi pebalap motor dia tak pernah diam. Dia selalu suka banget dengan kompetisi seperti ini," dia menjelaskan.
Kehilangan kaki, dari lutut hingga telapak, saat balapan di Sirkuit Sentul, Bogor pada 2015 bagi sebagian orang mungkin seperti kiamat. Tapi tidak bagi Fadli. Insiden nahas itu yang membuat kakinya diamputasi tak menghentikan dia untuk berprestasi meski di bidang lain yaitu balap sepeda.
"Ya, hidup terus berjalan. Dia punya anak, memang butuh contoh sosok ayah. Mungkin Ali, anak saya, melihat ayahnya dulu pebalap dan hal-hal seperti itu yang jangan sampai hilang. Akhirnya Fadli balap sepeda, artinya tetap membalap. Jadi saya selalu bilang sama Fadli, hidup terus berjalan, kamu kan masih bisa dan masih sanggup, jadi ya sudah lakukan saja," kata Asty menjelaskan.
"Kebetulan setelah kecelakaan yang bisa dia lakukan di rumah cuma sepeda. Jadi dia coba itu dan ternyata dia mampu karena memang Fadli begitu orangnya, dia optimistis banget dengan apa yang dia lakukan," ujarnya menambahkan.Asty berharap Fadli bisa mencapai mimpinya untuk menembus Olimpiade 2020 Tokyo.
"Saya cuma berharap dia tidak berubah
dan tetap menjadi Fadli yang saya kenal dulu. Rendah hati, jangan lupa solat, tetap sukses, karena dia meninggalkan keluarga juga training camp di Solo saja hampir 10 bulan. Jadi harapan saya dengan segala apa yang sudah dia lakukan dan kerjakan, dia bisa kerja keras mengejar impiannya di 2020 Tokyo," dia menambahkan.
resmi dibuka. Para pebalap top Asia pun memulai perburuan poin menuju Olimpiade 2020 Tokyo.
Seremoni pembukaan dimulai pukul 20.30 WIB oleh Ketua Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Seluruh Indonesia (PB ISSI) Raja Sapta Oktohari di Velodrome, Rawamangun, Selasa (8/1/2019). Balapan sendiri baru akan dimulai Rabu (9/1), dengan diikuti 297 pebalap dari 16 negara dan berlangsung sampai 13 Januari.
"Saya harus memberi informasi bahwa kami bersyukur bahwa kita menjadi host Asian Track Championship yang merupakan kegiatan balapan sepeda trek yang paling tinggi di Asia," kata Okto dalam sambutannya.
Tak cuma itu, kejuaraan yang merupakan ajang pengumpulan poin Olimpiade ini juga bergengsi tinggi. Sebab, hampir semua pebalap top terbaik Asia hadir untuk balapan. Selain itu, setiap peraih medali emas akan mendapat 60 poin.
Untuk itu, kami berharap kegiatan ini bisa sukses karena pebalap terbaik Asia sedang berada di Jakarta. Siapapun yang terbaik di sini akan mendapat tiket menuju Tokyo," ujarnya."Kami juga mendoakan supaya atlet kita bisa menunjukkan perfoma terbaiknya dan meraih poin banyak menuju 2020."
Hal senada juga diungkapkan perwakilan Union Cycliste Internationale (UCI) Asia Dato Amarjit Singh Gill. Dia memuji persiapan Indonesia sebagai tuan rumah."Bagi pihak UCI kami cukup bangga dengan persiapan yang dilakukan Indonesia dan PB ISSI. Jika melihat semua pebalap dari peserta negara sangat bagus. Dari Jepang, Korea, China, Malaysia, begitu dengan pebalap Indonesia. Saya percaya dengan ISSI dan usaha kuat dari Raja Sapta Oktohari program ini bisa dijalankan dengan baik. UCI juga banyak memberi bantuan kepada ISSI, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang sudah mendukung," kata Singh Gill.
Sementara itu, Sekretaris Kemenpora Gatot S. Dewa Broto berharap apa yang dilakukan PB ISSI dengan memanfaatkan venue berskala internasional untuk kepentingan prestasi atlet bisa diikuti induk cabang olahraga lainnya.
"Jadi jangan hanya berhenti di Asian Games dan Asian Para Games. Tapi mereka (induk cabang olahraga) juga harus berlomba untuk mengadakan event. Jangan hanya nasional, minimal lingkup Asia karena itu prestasi. Sebab, banyak event maka jam terbang semakin tinggi," kata Gatot.
"Jadi sekali lagi kami apresiasi dan saya yakin atlet kita akan menjadi menunjukkan prestasi yang bagus. Karena ibarat atlet negara lain latihan dan kompetisi di sini, masa kita hanya jadi penonton."
Asian Track Cycling Cyampionship (ACC) 2019 dibanjiri peminat. Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) menyebut jumlah pebalap melebihi ekspektasi.
ACC 2019 atau Kejuaraan Balap Sepeda khusus di nomor trek digulirkan 8-13 Januari di Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur. Ajang itu menjadi bagian dari pengumpulan poin menuju Olimpiade 2020 Tokyo.
Ketua Panitia Penyelenggara ACC 2019, Parama Nugroho, mengatakan tuan rumah siap menjamu kontestan. Bahkan dengan peminat yang melebihi target, dari 255 peserta menjadi 297 pebalap dari 16 negara.
Sudah 100 persen pasti. Kami bahkan kaget dengan jumlah pesertanya yang melebihi target. Kami hanya melihat dari entry by name yang kami terima yaitu 255 pebalap ternyata yang datang 297 orang. Jadi, harus menyiapkan akomodasi lain. Itu tantangan yang menyenangkan," kata Parama dalam jumpa pers di Rawamangun, Senin (7/1/2019).
"Artinya. kami bisa mengatasi itu. Seperti akomodasi hotel, tadinya hanya satu jadi bertambah untuk memenuhi itu. Dan ini adalah kualifikasi penting untuk Olimpiade dan paralimpiade sehingga membuat negara peserta menambah jumlah atletnya," dia menjelaskan.
Velodrome sendiri bukan kali pertama menggelar balapan yang melibatkan atlet-atlet top dunia. Pada Agustus sampai Oktober lalu, Velodrome juga menjadi salah satu venue Asian Games dan Asian Para Games 2018.
Tapi kali ini, beberapa pebalap meminta untuk bisa lebih leluasa menjalani adaptasi dengan venPermintaan khusus biasanya nambah jam latihan. Tapi kami tak bisa penuhi karena kami sudah bagi secara adil tiap negara hanya satu jam untuk berlatih. Jadi dari tanggal 5 Januari mereka sudah latihan bahkan sampai besok masih ada," katanya.
Dukungan juga diberikan oleh Direktur Operasi Jakpro, Wahyu A. Harun. Dia menyambut positif para tamu negara yang hadir."Kami bangga bisa menjamu dan turut berpartisipasi aktif dalam perhelatan ini," kata Wahyu.ue.
Indonesia menjadi tuan rumah Asian Track Cycling Championship (ACC) 2019. Tiket nonton balap sepeda se-Asia itu dijual dengan harga Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.Indonesia untuk kali pertama bakal menjadi tuan rumah kejuaraan balap sepeda trak Asia. Pebalap top dunia akan hadir meramaikan kejuaraan yang juga sebagai ajang pemburuan poin Olimpiade 2020 Tokyo di Velodrome, Rawamangun, mulai 9 sampai 13 Januari.
Ketua Panitia Penyelenggara ACC 2019, Parama Nugroho, mengatakan persiapan lomba saat ini berjalan lancar tanpa kendala. Ajang itu akan diikuti 16 negara dan menunggu kepastian Uni Emirat Arab dan Macau.
"Jadi tinggal menunggu itu. Tidak ada kendala tapi tantangan bagaimana membuat olahraga ini digemari, penontonnya berdatangan, dan dapat sponsor," kata Parama saat dihubungidihubungi .Untuk itu, tiket yang dijual pun nantinya tidak akan mahal-mahal. Parama menyebut tiket yang dijual dibandrol dengan harga Rp 50 ribu.
"Kami buka Rp 50 ribu dulu. Kami mau melihat animonya seperti apa. Sekalipun dinaikkan paling tinggi Rp 100 ribu dari 3000 lembar yang dilepas baik secara online maupun offline. Kami kerjasama dengan loket.com," dia menjelaskan.
Usung Konsep Sportaiment
Tak hanya tiket yang dijual, tuan rumah juga sudah menyiapkan konsep sportaiment dalam kejuaraan nanti.
Velodrome yang sudah teruji saat Asian Games dan Asian Para Games 2018 dinilai masih belum ramah penonton lantaran ketersediaan kuliner selama balapan tak optimal.
"Kemarin yang kurang di Asian Games dan Asian Para Games kan kesulitan untuk mencari makan. Dan itu yang akan kami coba buat. Nanti akan ada foodcourt sehingga penonton ini akan lebih mudah untuk mencari makan pada saat rehat nonton," ujar dia.
Pebalap nasional akan diuji lawan-lawan tangguh di Asian Track Cycling Championships (ACC) 2019. Kejuaraan balap sepeda se-Asia itu bergulir kurang dari sepekan lagi.
Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) memiliki gawe pekan depan. Mereka menjadi tuan rumah ACC di Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur mulai 9-13 Januari.
Dengan status tuan rumah, Indonesia tak ingin malu. Sebagai tuan rumah, veldorome sudah teruji saat Asian Games 2018.
Dari sisi prestasi, ISSI harus bekerja ekstra keras. Merujuk hasil Asian Games, nomor trek Indonesia kurang bisa bersaing. Skuat Merah Putih tak meraih medali satupun dari nomor trek.
"Saat ini persiapan sudah mulai tapering sejak memulai latihan dua bulan lalu. Tidak ada libur untuk Natal dan Tahun Baru latihan jalan terus," kata Budi Saputra, manajer Timnas Balap Sepeda Indonesia, kepada detikSport, Kamis (3/1/2019).
Untuk menghadapi ajang itu, ISSI menurunkan 14 pebalap putra dan putri, elite 14 putra putri, enam atlet paracycling, dan tujuh atlet junior.
Puguh Admadi, Rio Akbar, Terry Yudha Kusuma, Robin Manulang, Aiman Cahyadi, Projo Waseso, bernard Benyamin Van Alert, Nandra Eko Wahyudi, Dealton Nur Arif Prayogo akan turun di bagian putra. Untuk sektor putri, Indonesia menurunkan Crismonita Dwi Putri, Ayustina Delia Priatna, Maqfiroh, dan Azizah Farchana.
Muhammad Fadli Immammuddin, Sufyan Saori, Marthin Losu, Tryagus Arief Rachman, Herman Hawala, dan Sri
Sugiyanti akan tampil di para-cycling.
Budi menyebut ACC akan dihadiri pebalap-pebalap top Asia. Di antaranya para pemain medali emas Asian Games 2018,Azizulhasni Awang (Malaysia) yang merajai nomor sprint, Park Sang-hoon (Korea Selatan) di nomor pursuit perorangan, Eiya Hashimoto (Jepang) di nomor omnium diyakini bakal hadir.
"Pebalap terbaik Asia akan datang. Sebab, setelah tampil di sini, ada dua World Cup beruntun, Selandia Baru dan Hong Kong," kata Budi.
Angga Dwi Wahyu Prahesta bangga bukan main usai meraih medali emas di Asian Track Cycling Championship 2019. Ia tak menyangka sebab persiapan hanya dua minggu.
Selain Fadli ada Angga tampil dominan di antara sembilan pebalap lainnya di nomor scratch junior putra dalam balapan di di Velodrome, Rawamangun, Kamis (10/1/2019). Dia mengungguli pebalap India Venkappas Kengalagutti dan pebalap Tauwan Chih Sheng Chang untuk menyabet medali emas.
Pebalap berusia 17 itu pun tak kuasa menahan air matanya. Kedatangannya ke paddock langsung disambut tim pelatih dan ofisial dari Indonesia.
"Nggak menyangka. Saya persiapan hanya dua minggu dari pertengahan Desember kemarin," kata Angga, sembari pendinginan.
Keberhasilan ini melebihi ekspektas. Awalnya Angga cuma mematok target medali perunggu karena ini kali pertama dia ikut balapan level Asia.
"Sangat bangga sekali bisa dapat emas, saya sangat bangga. Susah sekali itu," ujar atlet kelahiran 15 Agustus 2001 ini.
"Tadi itu momennya pas di dua lap terakhir saat akan finis. Saya lihat ke belakang sudah copot semua. Saat lihat itu wah saya bisa ini, ya sudah saya teruskan,"tambahnya.
"Teman-teman juga memberikan semangat ya saya semakin termotivasi tapi tidak lupa tetap terus fokus."Angga mengaku nyaman di semua nomor balapan. Meski demikian, atlet asal Malang itu tetap punya niat untuk mengasah kemampuannya di nomor scratch.
"Insya Allah menekuni scratch. Tapi kalau nyaman sebenarnya nyaman semua dari nomor poin race karena spesialisasi saya nomor jauh," ungkap dia.
Selain Fadli dan Angga ada putri Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) mematok target emas di Asian Track Cycling Championships (ACC) 2019. Mereka berharap dari nomor sprint putri.
Kejuaraan Asia Balap Sepeda khusus untuk trek itu bergulir di Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, mulai 9-13 Januari. Indonesia menurunkan 14 pebalap putra dan putri, enam atlet paracycling, dan tujuh atlet junior.
Manajer Timnas balap sepeda Indonesia, Budi Saputra, optimistis Indonesia berhasil meraih medali emas. Dia bilang mengatakan jika melihat hasil latihan dan proyeksi yang diberikan pelatih pebalap putri Indonesia memiliki peluang besar untuk menyumbang medali emas. Terutama di nomor sprint putri atas nama Chrismonita Dwi Putri.
Berdasarkan hasil latihan, pelatih menyampaikan kalau kita mempunyai target medali emas dari sprint putri, Crismonita dan pasangannya Wiji Lestari. Tapi target emas bukan dari tim sprint ya, tapi dari nomor sprint," kata Budi .
Budi mengatakan Chrismonita punya modal di beberapa kejuaraan Asia sebelumnya sehingga bisa tampil kompetitif melawan pesaingnya. Seperti dari Malaysia, Korea, dan China.
"Chrismon itu juara di Asia Cup di India dan Thailand. Dia juga meraih medali emas di South East Asia GP sehingga itu bisa menjadi modal dan kepercayaan diri kami," Budi menjelaskan.
Peluang medali lainnya juga bisa diraih dari paracycling. Hal ini tak lepas dari jumlah negara peserta, yakni India, Singapura, Malaysia, dan tuan rumah Indonesia.
"Sementara, untuk sektor putra masih agak berat, masih jauh. Jadi peluang itu di putri dan paracycling," dia menambahkan.
Budi juga sekaligus menegaskan bahwa pebalap terbaik mereka Elga Kharisma Novanda tak ikut dalam kejuaraan ini lantaran masih dalam tahap recovery usai menjalani cedera tulang belakang di bagian pinggang yang sudah dibekapnya sejak lama.
"Elga akan digantikan oleh Wiji Lestari yang akan menjadi pasangan Chrismonita di nomor tim sprint putri," kata dia.
Tim sprint Indonesia putri lolos ke babak final hari pertama Asian Track Cycling Championship (ACC) 2019. Mereka akan mati-matian di final.
Berlangsung di Velodrome, Rawamangun, Rabu (9/1/2019), tim sprint putri, yang diperkuat Chrismonita Dwi Putri dan Wiji Lestari, mencatatkan waktu 35,424 detik. Mereka finis keempat dari tujuh tim yang bersaing di babak kualifikasi itu.
Mereka mengungguli tim dari Malaysia, India, dan Taiwan. Sementara, urutan pertama diraih wakil China, Korea, dan Hong Kong.
Di partai final, Chrismonita dan Wiji bakal beradu cepat dengan tim Hong Kong (Wai Sze Lee dan Wing Yu Ma) sore ini. Pada balapan pertama mereka mencatatkan waktu 34,396 detik.
Chrismonita bilang bisa tampil lebih sip di babak final. Mereka belum mengeluarkan kemampuan terbaik di partai itu.
"Tadi Wiji kurang cepat startnya sehingga pas narik juga jadi susah. Ya saya berharap nanti di final gas saja lah," kata Chrismonita.
Sementara itu, kepala pelatih Timnas Balap Sepeda Indonesia, Dadang Haris Purnomo, berharap Wiji, sebagai pebalap junior, bisa mengimbangi Crismonita.
"Ada perbaikan dari waktu latihan Wiji. Otomatis di tim sprint jika di start dibawanya tidak kencang, yang kedua maka mengangkatnya agak jauh lebih cepat. Jika Wiji tembus 19 detik, mungkin Chrismonita akan lebih mudah dan cepat lagi," kata Dadang.
"Tapi bagi saya sudah lebih bagus karena kami mencoba terus. Paling tidak penerus Elga sudah ada dengan menurunkan Wiji yang baru dua bulan bagus," kata Dadang.
Ayustina Delia Priatna puas tak puas dalam points race final di Asian Track Cycling Championship 2019. Tak puas karena gagal medali, puas karena bisa bersaing. Ayustina menghadapi 12 pebalap sepeda lainnya di nomor poin race final, di Velodrome, Rawamangun, Rabu (9/1/2019). Dia harus menempati posisi keenam usai mengumpulkan 4 poin.
Posisi pertama diraih pebalap Uzbekistan Olga Zabelinskaya yang membukukan 22 poin. Menyusul di posisi kedua pebalap Taiwan Ting Ying Huang dengan 22 poin dan Ying Zhang (China) 15poin.
Usai balapan Ayustina mengungkapkan kendalanya. "Tadi itu posisi sprint kurang pas saja. Banyak terdorong dari pebalap lain jafi agak sulit," kata Ayustina.
"Tapi tidak menyangka juga bisa melawan dan mengikuti permainan lawan-lawan. Seperti pebalap Singapura dan Thailand jika biasanya saya tak pernah melewati mereka, kini berhasil. Makanya saya di sini belajar terus agar ke depannya bisa lebih baik lagi," dia menjelaskan
Di ajang yang menjadi perebutan poin Olimpiade 2020 Tokyo ini, Ayustina sudah mengantongi 390 poin di nomor balapan poin race putri.
Dia masih menyisakan dua nomor lainnya, yaitu nomor balapan track 3000 meter individual pursuit putri dan nomor balapan scratch.
"Untuk nomor IP 3000 persiapannya dari kemarin Asian Games selalu mendapat hasil manis sampai masuk final. Saya berharap bisa meraih medali. Namun memang lawan juga berat seperti Korea pemegang rekor Asia, Taiwan dan China.
Makanya di kejuaraan ini saya masih tetap fight di nomor yang tersisa minimal bisa menambah poin olimpiade," tambahnya.
Pebalap sepeda putri Olga Zabelinskaya bangga bukan main bisa juara di Asian Track Cycling Championship (ACC) 2019. Pasalnya ini adalah penampilan perdananya
Olga asal Uzbekistan meraih medali emas di nomor balapan point race usai meraih poin 70 poin (10 lap/sprint) di lintasan trek Velodrome, Rawamangun, Rabu (9/1/2019).
Peraih medali perunggu Olimpiade 2012 mengungguli wakil Taiwan Huang Ting Ying dan wakil China Zhang Ying yang masing-masing mengumpulkan 22 dan 15 poin.
Ini Asian Track Championship pertama saya, saya cukup grogi, karena saya belum pernah berkompetisi di sini. Tapi tak apa-apa, saya bisa menjalani balapan dengan baik," ujar Olga usai pengalungan medali.
"Saya hanya ingin meraih kemenangan dan saya yakin semua menginginkan hal yang sama. Jadi saya melakukan tugas sebaik mungkin saja," dia menambahkan. Olga sendiri merupakan atlet Rusia. Dia lebih sering turun nomor balapan road race. Namun, kasus doping yang menimpa atlet-atlet Rusia pada Olimpiade Musim Dingin 2014 Sochi, membuat dirinya cemas.
Pebalap nasional akan diuji lawan-lawan tangguh di Asian Track Cycling Championships (ACC) 2019. Kejuaraan balap sepeda se-Asia itu bergulir kurang dari sepekan lagi.
Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) memiliki gawe pekan depan. Mereka menjadi tuan rumah ACC
KESIMPULAN
Dulu Indonesi pernah gagal meraih medali dalam ajang balap sepada jalan raya pada nomor individu di Subang, Jawa Barat, Rabu (22/8/2018). Dua wakil Indonesia Azizah Farchana dan Yanti Fuchiyanti finis di peringkat 15 dan 16, masing masing dengan selisih enam menit 51 detik dan 9 menit 14 detik dari sang juara.Tapi sekarang kita patut bersyukur kerena Indonesia bisa memberikan satu medali emas atas kemenganan Muhammad Fadli Imammudin yang berhasil mengalahkan pebalap asal dari Iran Mahdi Muhammad dengan catatan waktu 4 menit 59,601 detik , dan Sufyan Saori dan Sri Sugiyanti yang berhasil meraih medali perunggu. Di harapakan paraCycling dapat go internasional dengan presentasi yang baik agar bisa mengharumkan bangsa.
Nama : Sri Indah Khoirul .S
Nim : 1671511226
Hukum
Komentar
Posting Komentar